Teten Masduki

TRANSFORMASI DIGITAL MENUJU MODERNISASI KOPERASI

 

Dengan senang hati saya memenuhi permintaan Saudara Irsyad Muchtar untuk memberikan Sambutan dalam buku 100 Koperasi Besar Indonesia  yang  merupakan  edisi keempat sejak pertama terbit  pada tahun 2012.  Kehadiran buku ini saya nilai  sangat strategis dan penting mengingat  keberadaan koperasi sebagai entitas bisnis masih sering rancu dengan fungsi sosialnya yang acapkali ditafsirkan sebagai charity. Lantaran itu  tidak jarang, sebuah koperasi berdiri dengan latar belakang hanya sekadar mendapatkan bantuan pemerintah alih-alih membangun usaha bersama yang partisipatif.

Mengafirmasi koperasi sebagai entitas bisnis yang harus mendulang profit merupakan upaya berkesinambungan yang terus dikampanyekan oleh Kementerian Koperasi dan UKM. Karenanya, berbagai pembenahan yang mengarah pada menaikan gengsi koperasi sebagai entitas bisnis  terus kita sosialisasikan. 

Reformasi koperasi yang menyasar pada rehabilitasi, reorientasi dan pengembangan koperasi  pada periode lalu telah dapat menyisihkan sejumlah koperasi yang sekadar papan nama dengan jumlah relatif besar. Dari sebanyak  200.000 lebih  koperasi yang tercatat di kementerian Koperasi dan UKM telah dipangkas sekitar 62.000 koperasi tidak aktif. Koperasi tersebut  dikeluarkan dari data base pemerintah agar tidak mengganggu koperasi lainnya yang masih aktif berproduksi.   

Membangun paradigma koperasi sebagai entitas bisnis ternyata juga tidak mudah. Hal ini terkait dengan sejarah panjang koperasi itu sendiri yang di masa lalu merupakan bagian tak terpisahkan dari pergerakan kebangsaan menuju Indonesia merdeka. Maka beralasan jika di tengah gemuruh revolusi ekonomi digital dewasa ini  esensi bisnis koperasi terkesan old fashioned alias ‘jadul. Tantangan internal yang dihadapi koperasi umumnya di sekitar lemahnya penyesuaian manajemen secara modern, sementara di sektor eksternal minimnya  pemahaman dan minat generasi muda terhadap koperasi. Bahkan koperasi hanya dilihat sebagai bisnis ‘tempo doeloe’a,  tidak inovatif dan melulu dikelola sebarisan senior usia pensiunan. 

Kesalahpahaman ini  harus diluruskan dengan mengafirmasi koperasi yang  sejatinya justru merupakan organisisasi bisnis paling modern di dunia. Kita tahu, sejumlah koperasi besar dunia, seperti Agricole di Prancis, Mondragon Cooperative di Spanyol, Desjardins  di Kanada, Navy Federal Credit Union di Amerika Serikat, Zen-noh di Jepang atau Fonterra di New Zealand merupakan entitas bisnis  yang membawa harum nama negara di mana mereka beroperasi.   

Membangun koperasi besar dengan tata kelola yang baik dan profesional memang butuh waktu yang tidak singkat.  Sejumlah koperasi ternama dunia yang  kita sebutkan di atas telah membangun budaya organisasi dan perusahaannya rata-rata sejak 50 tahun hingga 100 tahun lalu.   

Agar koperasi Indonesia tidak makin tertinggal oleh perubahan zaman yang bergerak cepat,  Kementerian Koperasi dan UKM dalam Rencana Strategis 2020-2024 mencanangkan  visi lahirnya Koperasi Generasi Baru yang Maju dan Modern. Upaya tersebut sejalan dengan era digitalisasi  yang telah melahirkan berbagai inovasi dalam berusaha. 

Sebagai catatan, data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan hingga kwartal II/2020  pengguna internet mencapai 196,7 juta ( 73,7 persen dari populasi) atau  bertambah sekitar 25,5 juta (8,9 persen)  pengguna dibanding tahun 2019. Kenaikan  didorong oleh kehadiran infrastruktur internet cepat yang makin merata dan transformasi digital yang masif akibat pandemi Covid-10 sejak Maret 2020.

Kondisi tersebut merupakan peluang bagi koperasi  untuk berinovasi dengan asumsi bahwa nilai-nilai koperasi seperti pengelolaan yang demokratis, kesetaraan dan keadilan sangat selaras dengan gaya hidup kaum muda milenial.  Saat ini, dari 123.000 an koperasi aktif yang tercatat  di Kementerian Koperasi dan UKM  baru sekitar 906 koperasi atau 0,73 persen  yang masuk dalam ekosistem digital.    Karena itu, transformasi digital  menjadi prasyarat utama agar koperasi tampil modern, inovatif dan mampu  bersaing dengan badan usaha lainnya.

 

Terbitnya kembali buku 100 Koperasi Besar Indonesia ini tentunya  menarik, terlebih dalam suasana pandemi Covid-19 yang   mengakibatkan turbulensi perekonomian dunia. Sejumlah koperasi yang ditampilkan dalam buku ini menjadi indikasi bahwa  bisnis koperasi tidak seburuk yang disangka banyak pihak.  Tetapi ada pula sejumlah koperasi yang mampu menegaskan perannya sebagai entitas bisnis skala besar yang sejajar dengan pelaku ekonomi lainnya.

Teten Masduki.